Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Resensi

Belajar Dewasa dari Sebuah Pilihan

Judul              : One Little Thing Called Hope

Penulis           : Winna Efendi

Penerbit          : Gagas Media

Cetakan          : Kedua, 2016

Tebal             : x+ 422 halaman.

ISBN               : 978-978-780-822-8

 

Keteguhan hati untuk bertahan pada pilihan yang selalu diyakini menjadi hal yang teramat sulit, jika pilihan itu melibatkan nyawa orang lain. Meski begitu, dukungan dari orang-orang terdekat dan persahabata tak terduga diantara orang-orang yang dipertemukan secara tak sengaja menjadi hal-hal sederhana yang menguatkan untuk bertahan pada sebuah pilihan yang sulit.

“Waktu itu aku sadar, aku nggak bisa begiru saja berpura-pura seolah semuanya akan baik-baik saja. … Hanya karena aku bikin kesalahan bukan berati dia harus menanggungnya. Semuanya nggak akan berubah seperti dulu. Jadi kenapa nggak kami lewati berdua?” (Hal 161)

One little thing called hope adalah sebuah novel tentang persahabatan, keluarga, romansadan masalah sensitif yang terjadi di dunia remaja saat ini. Mengajarkan tentang pentingnya sebuah pilihan yabg harus dipertahankan disertai resiko yang harus ditanggung. Ada keteguhan dan nilai-nilai positif dibalik kesalahan di masa lalu dan mengutamakan hidup di atas segalanya menjadi hal terpenting pada alur cerita novel ini.

Diawali dari kisah Aeryn yang belum terbiasa dengan kehidupan baru di rumahnya. Mamanya meninggal, selang beberapa bulan kemudian papanya menikah lagi dengan Tante Hera tanpa minta persetujuannya. Aeryn tak bisa membayangkan memiliki ibu dan saudara tiri bernama Flo yang seumuran dengannya.

Lanjutkan membaca “Belajar Dewasa dari Sebuah Pilihan”

Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Resensi

Curahan Hati Seorang Demonstran di Zaman Peralihan

Judul             : Soe Hok Gi : Zaman Peralihan

Penulis          : Soe Hok Gie

Editor             : Stanley dan Aris Santoso

Penerbit        : Mata Bangsa

Cetakan        : Pertama, 2016

Tebal             : xxv+308 halaman

ISBN              : 978-972-9471-21-5

 

Membaca tulisan Soe Hok Gue adalah membaca persoalan bangsa di tengah carut marut dan gegap gempita pada zaman peralihan. Adanya daya tarik dan kejujuran dalam menerobos kabut emosi serta kemunafikan dalam setiap tulisannya. Soe Hok Gie adalah tokoh penting mahasiswa, tulisannya yang kritis dan berani seolah membangunkan rasa kemanusiaan para pembaca.

Buku setebal 308 halaman ini merupakan kumpulan tulisan Soe Hok Gie di zaman peralihan yaitu dari kekuasaan Soekarno ke Soeharto antara tahun 1967-1969. Buku ini dikelompokkan menjadi empat bagian, disesuaikan dengan gagasan dasarnya, diantaranya masalah kebangsaan, dunia mahasiswa, masalah kemanusiaan, dan catatan perjalanan.

Peran Soe Hok Gie sebagai intelektual muda yang berbicara persoalan bangsa tertulis pada bagian masalah kebangsaan. Bagaimana rasa idealisme harus dipertahankan ketika menghadapi realita-realita di masyarakat, seperti korupsi, hipokrisi dan lain-lain. Hidup rakyat selalu dikepung slogan. (Hal x)

“Kita punya dua pilihan jika melihat keburukan-keburukan yang terjadi di kalangan pemerintah. Terjun ke dalam berusaha memperbaikinya (belum tentu berhasil) atau tinggal di luar sambil menantikan aparat ambruk….” (Hal 60)

Saat itu Soe Hok Gie mempertanyakan alasan Rektor UI yang menjadi Menteri Pertambangan, yang mau bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing, pejabat korup dan sloganistis.

Lanjutkan membaca “Curahan Hati Seorang Demonstran di Zaman Peralihan”

Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Resensi

LEBIH DEKAT DENGAN BIROKRASI PEMERINTAHAN

Judul : Administrasi Publik; Teori dan Aplikasi Good Governance
Penulis : Dr. Pandji Santosa, M. Si
Penerbit : PT Refika Aditama
Tebal : 173 Halaman
Cetakan : Ketiga, Juli 2012
ISBN : 979-1073-54-6

Membaca buku administrasi publik adalah pertama kali. Adalah perkenalan yang dilakukan dengan terpaksa. Adalah sebuah tantangan mengkhatamkan sesuatu yang bukan diminati. Adalah sebuah hal baru yang terus dicoba. Ya begitulah tantangan reading challenge yang masih berlanjut. Sebagai angkatan pertama kami terus berjuang, minimal membuat rajin untuk membaca sudah cukup.

Truth is not only violated by falsehood, it mat outraged by silence, (Kebenaran tidak hanya diperkosa oleh kepalsuan, tetapi juga oleh sikap berdiam diri.) -Henri Frederic Amel (1821-1881)-

Buku setebal 173 halaman ini sudah cukup mengenalkan saya tentang dunia pemerintahan. Menjelaskan apa, bagaimana, mengapa tentang birokrasi, kebijakan publik, cara menjadi pemerintahan yang baik sehingga hal-hal birokrasi yang buruk bisa direformasi menjadi lebih baik. Pada bab 1 mengenalkan tentang definisi, karakter, problematika birokrasi dan lain-lain. Birokrasi sendiri artinya cara bekerja/susunan pekerjaan yang serba lamban serta menurut aturan dan tata likunya. Menurut KBBI, birokrasi adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan. (Hal 1)
Mendengar kata birokrasi yang terpikirkan di benak kita adalah mengurus sesuatu hal dengan pemerintah yang terkesan berbelit-belit, rumit dan panjang. Hal ini dikarenakan ada beberapa masalah birokrasi yang belum teratasi, diantara problematika birokrasi yang terjadi ialah standard efisiensi fungsional (standard untuk mengukur tingkat pencapaian efisiensi) (Hal 17), berlebihan terhadap rasionalitas, impersonalitas, dan hierarki, penyelewengan tujuan, pita merah/red tape (jika peraturan dan regulasi berjalan menyimpang dari pagar proteksi dan menjadi berlebih-lebihan, maka pita berkembang) (Hal 20)

All human wisdom is summed up in two words; wait and hope (seluruh kebijakan manusia dapat diringkas dalam dua patah kata; menanti dan berharap.) -Alexander Dumas (1803-1870)-

Lanjutkan membaca “LEBIH DEKAT DENGAN BIROKRASI PEMERINTAHAN”

Diposkan pada Jurnalistik

Berhati-Hatilah Ketika Mulai Membaca, Perkuat Kadar Imanmu dengan Segera

Screenshot_2017-06-18-20-33-58-1Judul: Atheis

Penulis: Achdiat K. Mihardja

Penerbit: PN Balai Pustaka

Cetakan: ketujuh, 1981

Senjata utama adalah kata-kata, adalah pemicu konflik yang dihadirkan secara sengaja, begitulah gambaran dari novel ini. Sosok Hasan sebagai tokoh utama menjadi korban dari orang yang dianggapnya tahu, selalu bisa terpengaruh oleh suatu pemahaman yang meyakininya. Konflik yang dibuat dalam alur cerita bermula dari sosok Hasan yang begitu rapuh dam mudah terpengaruh.

“… kepatuhan jiwanya disebabkan oleh kata-kata pula.” (Bagian xiii)

Tokoh Rusli menjadi sosok paling berpengaruh dalam kehidupan Hasan. Selain itu ada tokoh Kartini, janda dari lelaki tua Arab; Anwar, seniman anarkhis putra dari seorang bupati, Raden Wira dan istri, sosok ayah dan ibu Hasan yang ikut berperan di awal dan akhir cerita, serta tokoh saya yang barangkali adalah penulisnya sendiri.

Membaca novel ini bermula dari pengaruh seseorang, setelah sebelumnya buku yang berjudul ‘Lowongan Tuhan’ telah habis dibaca beberapa bulan lalu. Sebenarnya masih ada lanjutan dari lowongan Tuhan, yaitu buku yang berjudul Avatar namun karena masih tersesat keberadaanya, maka novel Atheis ini yang dipinjamkannya.

Lanjutkan membaca “Berhati-Hatilah Ketika Mulai Membaca, Perkuat Kadar Imanmu dengan Segera”

Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Jurnalistik

Kegiatan Paling Nikmat adalah Membaca. Kenapa?

Membaca adalah gerbang utama menuju pintu khayalan, menuju dunia lain yang tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Kegiatan paling nikmat jika seseorang sudah bisa memasukinya, membuat ketagihan lagi dan lagi. Mula-mula membaca adalah tampilan kebosanan, tampilan yang terbuang jauh dari gaya keren ala anak-anak hits, tapi ketahuilah dengan membaca kita akan semakin tahu bahwa kita sebenarnya masih jauh dari kata pandai alias kita masih  bodoh, masih belum tahu apa-apa, bahkan masih bisa diukur kalau sebenarnya kita tak ada apa-apanya.

Membaca adalah nama lain dari mencintai sastra, adalah sebuah upaya untuk merindukan setiap kedatangan pengetahuan.

Mula-mula adalah kebosanan, selanjutnya tersesat dalam pengetahuan. Ya, mungkin begitulah kira-kira jika memaksa untuk rajin dan senantiasa patuh pada aturan kita sendiri untuk setiap hari menjadwalkan diri membaca. Mengapa saya membaca? itu yang sering dipertanyakan beberapa orang ketika saya selalu lebih asyik dengan buku, lebih memilih membawa beberapa buku kemana-mana daripada make up. Lebih memilih duduk berjam-jam menikmati bacaan daripada berbicara tanpa penghabisan dengan teman.

Mengapa saya memilih membaca? Lanjutkan membaca “Kegiatan Paling Nikmat adalah Membaca. Kenapa?”

Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Resensi

Resensi dimuat di Koran Jakarta Senin 15/5/2017

Tanpa basa-basi lagi, berikut versi asli resensi saya di koran jakarta karena ada beberapa bagian yang digubah, termasuk judulnya. 🙂

Memaknai Anti Kekerasan Terhadap Anak dengan Puisi

Judul             : Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak

Penulis          : 194 Penyair Indonesia (Komunitas Memo Penyair)

Penerbit        : Forum Sastra Surakarta

Cetakan        : September, 2016

Tebal             : 384 halaman

ISBN              : 978-602-6284-35-8

 

Anak-anak adalah tulang punggung masa depan sebuah bangsa, menyelamatkan mereka sama saja menyelamatkan bangsa ini ke depannya, baik melalui gerakan moral bersandar pada laku kebudayaan. Itulah cuplikan pengantar dari antologi puisi yang ikut serta ambil bagian menyelamatkan anak-anak dari kekerasan (baik secara psikis dan fisik) melalui puisi-puisi yang terlahir sebagai anak kandung kebudayaan.

Di akhir tahun 2016 lalu, kita seolah dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai kekerasan terhadap anak. Setiap hari di berbagai sudut kehidupan berita kekerasan seolah telah berkarib dengan masyarakat. Televisi, radio, koran hingga mulut orang-orang menjadi semacam hal biasa, dan anak-anak pun luput dibiarkan begitu saja menjadi korban.

Maraknya kekerasan terhadap anak menjadikan hak-hak sebagai anak-anak yang harus diberikan kehidupan layak seolah tak lagi dipedulikan. Dipaksa bekerja mencari uang, dijebak menjadi pengemis, diperjualbelikan hingga menjadi korban pencabulan dan pembunuhan.

nak, tahukah kau

apa yang kaulakukan di sini

kau disuruh jualan koran di pinggir jalan

katanya sambil bermain-main, tapi mana uangnya

kau hanya diberi sebungkus nasi untuk mengganjal perutmu

hanya nasi dan sayur. (Hal 145)

  Lanjutkan membaca “Resensi dimuat di Koran Jakarta Senin 15/5/2017”

Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Resensi

Jurus Membaca Cepat dan Waktu Hemat

Judul: Speed Reading; Sistem Membaca Cepar dan Efektif

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis: Soedarso

Cetakan: Kesepuluh, September 2002

Tebal: 152 Halaman

ISBN: 979-403-387-7

Membaca seperti hal yang membosankan ketika kita tak bisa menikmati dan mengetahui trik-trik jitu agar membaca lebih hemat waktu dan bisa mendapat informasi. Buku ini adalah salah satu contoh bagaimana sistem membaca cepat dan efektif, mengungkapkan hambatan dan kebiasaan lama yang salah dalam membaca disertai cara mengatasinya. Teknik-teknik untuk menguasai buku yang disertai latihan-latihan yang diperlukan.

Buku setebal 152 halaman ini terdiri dari 6 bab. Bab pertana membahas tentang kebiasaan lama dalam membaca. Pada halaman 5-9 telah dijelaskan enam hambatan membaca cepar yang telah menjadi kebiasaan semasa kecil, diantaranya adalah;

  • Vokalisasi: membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca

  • Gerakan Bibir: Komat-kamit atau mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca. Kecepatan membaca dengan bersuara atau gerakan bibir hanya 1/4 kecepatan membaca dalam diam
  • Gerakan Kepala: Menggerakkan kepala dari kiri ke kanan
  • Menunjuk dengan Jari: Gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata
  • Regresi: Kebiasaan kembali ke belakang untuk melihat beberapa kata yang baru dibaca
  • Subvokalisasi: Melafalkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang dibaca.

Lanjutkan membaca “Jurus Membaca Cepat dan Waktu Hemat”