Diposkan pada Fiksi

SELASA, DIALOG BANGSA

Hari ini mengikuti acara dialog kebangsaan di Perpustakaan Nasional Bung Karno. Menambah wawasan ilmu, mencari ruang-ruang nasionalisme dalam diri hingga menguatkan jiwa literasi setiap hari. Ada tiga narasumber yang dihadirkan. Yaitu ada Pak Syamsul Bahri, Bu Indah Iriani dan Bu Lely Mei.

Diposkan pada Fiksi

Puisi di Majalah Al Fikroh

Membaca nama majalah ini jadi teringat majalah sewaktu di SMA. Al-Fikroh juga. Jadi ceritanya, sama temen yang pernah kenal tak sengaja disuruh ngirim ke majalah yang sedang digelutinya. Alhasil begitulah, beberapa minggu kemudian dikirimi majalah dan honornya. Lumayanlah buat tumbas cilot. 😀

Selamat menikmati …

Sabtu, 17 Oktober 2019

Diposkan pada Fiksi, Resensi

CARA MENGHADAPI KESEDIHAN

Judul: Perempuan Lolipop
Penulis: Bamby Cahyadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Tebal: viii+198 halaman
ISBN: 978-602-03-0259-1

Tak ada yang menyangka pindah di sebuah kompleks perumahan elite menjadi awal mula nasib buruk datang beruntun. Anak bungsu keluarga Pak Sobirin meninggal tiba-tiba akibat radang otak, anak perempuan Pak asep ditabrak motor hingga mengalami gegar otak dan patah tulang. Kejadian misterius juga dialami keluarga Galih. Setelah bayangan gelap mencoba memasuki rumah, mimpi-mimpi buruk datang di lelap tidur Galih, hingga akhirnya Ayah Galih meninggal saat dinas kerja di luar kota.

Selepas 2 tahun kematian ayahnya, keluarga Galih pindah kota. Pesan dari sang ayah ia dapatkan saat melakukan pendakian di Gunung Galunggung dan mendadak terseret pusaran kabut tipis yang menggulung tubuhnya menuju sebuah ruangan. Di tempat itulah Galih bertemu ayahnya dan orang-orang yang sudah meninggal di kompleks dulu. “Galih sampaikan kepada semua orang agar selalu mengirimi kami doa, jangan rindukan kami.” Tiba-tiba suara ayah bergelagar. Ruangan yang dingin menjadi sangat dingin saat ayah berbicara. (Hal 67-Tanda Cinta dari Akhirat)

Tak melulu menceritakan kesedihan, kehilangan bahkan tentang kematian dan roh-roh halus yang datang untuk sekedar memberi pesan karena mereka jiwa-jiwa yang sedang dirindukan. Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop menjadi sorotan utama dalam kumpulan cerpen in. Mengisahkan tentang persiapan menghadapi kematian. Apa yang menjadi kebiasaan di dunia, hal itu pula akhir dari segalanya.

Tak hanya itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada ibunda lewat cerita berjudul Aku Tak Sehebat Kartini. Bagaimana seorang ibu harus menghadapi anak-anaknya sendirian, karena suami telah meninggal dunia. Kesendirian benar-benar dirasakan ibunda ketika anak-anaknya sudah bahagia dengan kesuksesan dan telah berkeluarga. Kesendirian menjadi teman hidup.

“Dan seperti yang aku takutkan, aku benar-benar sendirian. Tak ada siapa-siapa. Aku benar-benar sendiri. Kesendirian yang selalu memaksa aku membuka kitab-kitab kenangan. (Hal 188-Aku Tidak Sehebat Kartini)

Namun, berkat hadiah pemberian anaknya, sang ibunda tak lagi merasa benar-benar sendiri. Ada banyak cara untuk menghadapi kesedihan dan mengisi waktu yang belum tertata jadwal kesibukan. Salah satunya membaca buku ini sebagai jalan menemukan arti dari kehidupan.

PPMU, 06 Sept 2019

Diposkan pada Artikel dan kawan-kawannya, Resensi

Jangan Membenci Kalau Tak Ingin Jatuh Cinta

Judul: Gara-gara Benci
Penulis: Yurita Sari
Penerbit: Media Pressindo, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2012
Tebal: iv+168 halaman
ISBN: 978-979-911-168-5

Tak ada yang pernah tahu bahwa kebencian bisa menjadi awal mula rasa cinta tumbuh tiba-tiba. Terlebih lagi jika hal itu terjadi pada lelaki dan perempuan yang sedang mengalami tumbuh kembang bunga-bunga cinta. Dion dan Ristha menjadi teman bertengkar sekaligus teman sebangku gara-gara aturan di kelas baru. Tapi tanpa tahu alasannya, benih kebencian menyebar tak sengaja seiring dengan cinta dalam debar dada Ristha. … Atau jangan-jangan sangking seringnya kami berantem, gue jadi lupa alesan kenapa gue sama Dion bisa musuhan. Kalau dipikir-pikir rasanya gak ada satu hal pun yang pantas dijadikan alasan untuk membuat kami berantem. (Hal 130)

Membaca novel ini seperti menumbuhkan jiwa-jiwa remaja semasa SMA untuk kembali diputar ulang indahnya jatuh cinta, sesaknya menahan rindu karena pertemuan selalu menjadi hal yang ditunggu, hingga sakit hati dan kecewa jika perasaan tak berbalas sama dengan apa yang menjadi harapan. Dikemas dengan narasi dan percakapan ringan, alur mudah ditebak, sehingga tak membuat menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikannya. Ending bahagia mampu membuat pembaca tak terlalu banyak menyalahkan masing-masing tokoh.

Konflik hanya seputar masa-masa SMA. Benih-benih benci datang tanpa pemberitahuan, menghadirkan cinta yang tumbuh begitu saja. Tentang masa lalu yang tersisa dari kenangan-kenangan dalam diri Ristha membuatnya berpikir ulang untuk jatuh cinta dengan Dion. Meski pada akhirnya dia harus memilih. Ingin hidup di hari ini dan hari depan bersama harapan atau membiarkan masa lalu untuk tetap tersimpan dalam lubuk hati paling tersembunyi. Sebagai bukti hari lalu adalah pengingat bahwa kenangan yang akan menjadikan seseorang kuat menjalani kehidupan.

Erwin dan Dion bukanlah dua orang yang sama, mereka berbeda. Yang sama hanyalah gue mencintai mereka berdua, namun dengan cara yang berbeda. Gue mencintai Erwin dalam kenangan-kenangan gue. Dan gue mencintai Dion dalam kehidupan gue yang sekarang. (Hal 163)

Novel bertema mainstream tentu akan mudah ditebak jalan ceritanya oleh pembaca. Meski begitu pesan yang ingin disampaikan bermakna dalam. Jangan membenci kalau tak ingin jatuh cinta. Bencilah dan cintailah sesuatu dengan sekadarnya saja. Karena berlebih-lebihan sesuatu itu perkara tak disenangi. Selamat jatuh cinta sekadarnya!

PPMU, 06-07 Sept 2019

Diposkan pada Go Media

PUISI DI ANTOLOGI MEMO ANTI TERORISME

Mengikuti antologi ini tak pernah terbayangkan. Dalam pikiran saya hanya ingin terus menulis puisi dan belajar dengan berbagai tema. Mungkin dorongan launching yang sering dilaksanakan di Rumah Budaya Kalimasada membuat saya tergerak untuk mengirim puisi tersebut.

Awalnya mencari judul dan isi puisi apa yang akan saya tuliskan. Akhirnya ya begitu hasilnya. Selamat menikmati! 😁

SURAT UNTUK MAS TERORIS (1)

Kutulis surat ini selepas televisi kumatikan
Selepas senyumku terpatahkan
Selepas reporter mengabarkan siaga pengkhianatan
Selepas orang-orang belum usai merayakan ketakutan
Darimu yang mencari-cari perhatian

Blitar, 23 Januari 201

Diposkan pada Go Media

PUISI DI ANTOLOGI MELANKOLIA SURAT KEMATIAN

Tak ada pengantar paling puitis selain ucapan terimakasih, kepada orang-orang yang terlibat dalam event ini. Mbak Nurul Why, penggagas sekaligus penggerak komunitas RUAS. Terimakasih karena akhirnya saya bisa merasakan punya piala sendiri dari hasil nulis, dikasih nama pulak. Berasa diabadikan. Hihihi
Selamat menikmati kegalauan saya. 😀

PENGANTIN LAUT

Akan kuceritakan kepadamu tentang sepasang pengantin laut yang dipertemukan ruh-ruh leluhur masa lalu. Dipaksa menikahi kesederhanaan sepanjang usia mengalir ke setiap ruang-ruang di sekujur tubuh.


Blitar, 2016

Diposkan pada Go Media

PUISI DI ANTOLOGI NEGERI AWAN

Penulisan puisi untuk negeri poci termasuk perjuangan. Iya, saingannya banyak, penyair yang ikutan uda punya banyak pengalaman nah aku mah apa atuh, bukunya tebel pulak sekitar 700 halaman.

Kali pertama ikutan di antologi negeri laut, belum berhasil lolos. Coba lagi di negeri awan. Dan taraa … nggak nyangka bisa lolos. Bahagia, iyalah, banget. Hehehe. Cuman sayangnya gak bisa ikutan launching bukunya di Tegal waktu itu.

Nih, cuplikan satu dari tiga puisi saya di negeri awan…

MEMASAK DAN SARAPAN

Di dapur, bumbu-bumbu masih tertidur
Kubangunkan dengan pisau yang sedikit tumpul
merobek kulit tipis bawang
dengan mantra berkedip-kedip
agar kelopak mata tidak menumpahkan tangis


Blitar, November 2015

Dan ini cover buku ANTOLOGI NEGERI AWAN

Rumah, 02 September 2019